Tak terasa pelatihan belajar menulis PGRI sudah
memasuki hari ke-3. Setelah Kamis lalu disampaikan materi 'Ide Menulis bagi
Guru' kali ini para peserta dibawa untuk menyelami dunia ilmu yang berbeda. Ada
bahagia membuncah saat kubaca materi Blog dan Youtube Mengantarkanku Menjadi Guru Inspiratif
Terbaik Nasional. Bagiku mengutak-utik youtube adalah aktivitas yang mengasyikkan, meskipun
kemampuanku dalam membuat video belum sebanding dengan para guru youtuber yang saat ini sedang booming.
Urgensi Membaca
Dari paparan materi
yang disampaikan ada beberapa benang merah yang dapat ditarik. Namun, dari
sekian banyak paparan yang disampaikan oleh narasumber, muaranya adalah satu
menurut saya, yakni membaca. Meskipun pada paparan narasumber hanya menyebutkan
kesenangannya menulis sebagai permulaan karir dan prestasi, tapi hal itu jelas
tidak lepas dari adanya aktivitas membaca. Seseorang yang pandai menulis pasti
juga pandai membaca. Tulisan tidak akan menjadi baik tatkala membaca
dikesampingkan.
Hal tersebut sesuai
dengan yang dinyatakan oleh para pakar. Para pakar sepakat bahwa kemahiran membaca (reading literacy) merupakan conditio sine quanon (prasyarat mutlak)
bagi setiap insan yang ingin memperoleh kemajuan (Harras). Membaca dan berkemajuan adalah dua hal yang
beriringan. Kiranya pendapat Harras ini sangat selaras dengan kiprah Rita Wati,
S.Kom. narasumber pelatihan belajar menulis PGRI Kamis (21/1). Berawal dari
kesukaannya membaca kini rentetan prestasi diterimanya. Secara garis besar
dapat dibaca pada biodata berikut ini.
Kesenangan membaca yang kemudian berkembang menjadi menulis
membawa dampak perubahan yang sangat besar. Dari ketidakpedean membaca tulisan
sendiri hingga kini justru tulisannya dibaca dan dibutuhkan banyak orang,
itulah dahsyatnya menulis. Dari sekadar guru biasa hingga menjadi luar biasa
bahkan berprestasi luar biasa se-Indonesia bermula dari menulis. Setidaknya,
bagi guru yang bercita-cita menjadi luar biasa maka di pelatihan menulis
PGRI-lah tempatnya. Selain itu, narasumber Rita Wati, S.Kom. adalah teladannya. Dikatakan oleh Rita Wati bahwa kegiatan menulis yang dilakukan hingga saat ini bermula dari komintas menulis PGRI yang diikutinya pada gelombang sepuluh.
Seseorang yang senang menulis akan banyak dikejar pekerjaan
mulia. Berawal dari menulis sederhana, menulis bersama-sama, sampai menulis
buku solo akan datang tawaran menjadi kurator, editor, moderator, narasumber
menulis. Bahkan, beraneka penghargaan teraih. Juara blog, guru inspiratif
terbaik tingkat nasional, juara lomba menulis, dan juara pembuatan video
pembelajaran ada di genggaman, seperti yang dialami oleh Rina Wati, S.Kom.
Konsistensi Membaca dan
Menulis
Sudah sewajarnya bahwa aktivitas membaca dan menulis akan menciptakan insan terdidik. Tidak akan pernah ada orang terdidik tanpa membaca. Orang terdidik akan senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang baik guna menunjang karirnya. Hal ini dikuatkan oleh Rooijakers (1980) seorang pakar pendidikan bahwa membaca sangat berperan dalam menentukan karir seseorang. Melalui kegiatan membaca yang baik orang akan dapat mengembangkan diri dalam bidangnya masing-masing. Orang tersebut akan mampu mengikuti perkembangan baru yang terjadi di sekitarnya. Kemampuan membaca yang baik akan memunculkan kemampuan menulis yang baik pula. Keduanya memerlukan kekonsistenan dalam melakukannya.
Konsistensi dalam membaca dan menulis telah mengantarkan Rita Wati, S.Kom. meraih sukses hingga saat ini. Bahkan sesuai dengan bidang pendidikan yang digelutinya hingga saat ini, Rita Wati, S.Kom. juga seorang youtuber yang gemar membuat konten pada channel yang dimilikinya. Seseorang yang ingin mengakses konten-kontennya dapat mengunjungi channel berikut ini.
Channel yang dimilikinya terus berkembang hingga ratusan
konten sudah dibuatnya. Lagi-lagi ini soal konsistensi. Kegiatan membaca yang
dilakukannya telah melebar pada kekonsistensiannya membuat konten youtube. Berkat aktivitas membaca yang dilakukan
secara konsisten membantu membuat konten-konten yang berkualitas.
Menjaga konsistensi dalam membaca dan menulis dapat dibantu
dengan menggunakan media blog. Seseorang dapat menyimpan semua tulisan di blog
tersebut. Menurut Rita Wati bahwa tulisan yang sudah terkumpul di dalam blog
dapat dipilih-pilah sesuai dengan tema. Jika sudah dikelompokkan maka tahap
selanjutnya terbitkan menjadi sebuah buku. Penulis tidak perlu risau dengan
kualitas tulisan. Tulisan yang baik menurut Rita Wati adalah tulisan yang
selesai. Konstensi dan keajegan menulis di blog lama-lama akan memunculkan
banyak karya, yakni buku antologi dan buku solo dalam berbagai genre. Sediakan
waktu khusus setiap hari secara rutin untuk membaca dan menulis. Hal ini
menjadi pendukung terbentuknya kekonsistenan.
Kekonsistenan membaca dan menulis akan menggiring bacaan dan
tulisan yang tersusun menemukan takdirnya. Yakinlah, takdir baik yang akan
ditemui oleh para pembaca dan penulis yang setia. Hari-hari menjadi semangat karena suatu ketika kekonsistenan membaca dan menulis secara diam-diam akan terbaca
oleh alam. Tulisan akan berbicara melalui jalannya. Teruslah menulis, tidak ada
sesuatu yang tak mungkin di dunia ini. Jika hari ini terlihat mustahil lain
waktu bisa menjadi kenyataan (Rita Wati).
Mantap bu
BalasHapusTerima kasih, Bu..mohon motivasi dan bimbingan
HapusMantul Bun...
BalasHapusTerima kasih, Bund. Ini baru belajar
HapusMantull bu Rina..
BalasHapusNamanya hampir sama dengan Narsum...
Gabungan keduanya menjadi Rina Wati seperti yang ter tulis di paragraf ke-5 dan nama penulis di paragraf terakhir
Keren pencermatannya. Alhamdulillah, sahabat baikku dah berkenan memberi masukan. Siap edit.
Hapus