SEBUAH SENI MENULIS RESUME
Satu hal yang menarik dari pemaparan pelatihan belajar menulis PGRI malam ini adalah bagaimana mengemas sebuah materi narasumber menjadi resume yang baik dan berkualitas. "Menulis resume tak sekadar copy paste," demikian kata narasumber dalam paparannya. Hal ini sangatlah benar, terlebih bagi seorang penulis pemula kadang godaan untuk meniru tulisan orang lain seringkali muncul dengan alasan buntunya ide. Menulis membutuhkan seni. Seperti yang dinyatakan ariefdermawan pada laman https://steemit.com/inspiration/@ariefdermawan/menulis-adalah-seni-menyusun-kata menulis ada seni menyusun kata demi kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi sebuah tulisan. Pernyataan itu dapat dimaknai bahwa dalam penyusunan sebuah tulisan jangan lupakan seni. Agar memiliki nilsai seni, tulisan harus berkarakter.
Seperti pengalaman yang saya rasakan dalam empat kali pertemuan ini ada banyak bentuk tulisan yang mulai dari pembuka dan penutup berbentuk puisi, pengemasan tulisan berbentuk cerpen sampai dengan menarasikan kembali pendapat-pendapat narasumber dalam penyampaian materi.Setelah beberapa kali postingan dibaca ada satu karakter tersendiri terkait pemilik suatu tulisan. Untuk mendapatkan karakter tersebut kuncinya adalah satu, yakni membaca. Semakin banyak membaca tulisan yang dihasilkan seseorang, semakin akrab kita terhadap karakter tulisan yang dihasilkan.
Pemilihan Diksi dalam Kalimat
Pemilihan diksi dalam sebuah kalimat menjadikan kalimat itu bernyawa dan memiliki ruh. "Diksi sangatlah penting dalam tulisan. Seseorang akan menyenangi diksi yang lahir dari diri sendiri. Diksi yang sudah terbentuk akan menjadi kekayaan intelektualitas seseorang. Dengan diksi itulah seseorang akan memiliki kekhasan diri sendiri," ungkap Maesaroh. Dalam menyusun sebuah resume seorang penulis hendaknya keluar dari diri pribadinya pemateri. Semuanya akan terwujud melalui parafrase yang melibatkan pemilihan diksi yang tepat.
Memilih sebuah diksi dapat menggunakan cara mencari padanan kata atau sinonim. Kadangkala satu kata belum tentu sesuai diterapkan dalam kalimat tertentu. Sama-sama bermakna 'dapat', kata 'bisa' tidak bisa diterapkan dalam kalimat 'Hingga tanggal ini saya belum dapat'. Dapat bermakna menstruasi yang sudah mengalami pergeseran dari dapat yang bermakna bisa.
Dalam penyusunan resume, ketepatan memilih diksi pun akan berdampak pada daya ketertarikan orang lain untuk membaca. Apabila menyusun resume hanya sekadar copy paste atau menulis ulang yang disampaikan oleh narasumber tanpa adanya proses menyadur maka pembaca akan bosan. Jadi, hal penting dalam menyusun resume adalah ketepatan memilih diksi.
Hindari Plagiarisme
Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa plagiarisme adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta, sedangkan pekerjaannya disebut dengan plagiat. Selain akan terkena hukum pidana, nama baik diri sendiri akan tercemar. Tentu, sesederhana apapun tulisan seseorang, itulah juaranya asal bukan hasil jiplakan atau plagiat. Oleh karena itu, hindarkan risiko dan hindarkan plagiarisme agar tulisan kita mendapat tempat di hati para pembaca.
Jika penulis menghendaki untuk mengutip tulisan orang lain, jangan segan-segan menulis sumbernya. Ini adalah salah satu langkah menghindarkan diri dari plagiarisme. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan simpulan atas pernyataan seseorang yang kita kutip. Kesimpulan adalah pendapat akhir penulis setelah menstimulasikan data-data yang ada pada tulisan aslinya. Plagiarisme ini terjadi jika mengutip secara utuh tulisan orang lain, sehingga perlu dilakukannya parafrase agar tidak sama persis. Ajakan inilah yang dilontarkan oleh Maesaroh narasumber hebat pertemuan keempat malam ini.
Pemilihan diksi dan menghindari adalah beberapa trik untuk menjadi seorang penulis yang andal. Di samping itu menurut Maesaroh ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin menjadi penulis andal, di antaranya adalah:
1. Menanamkan sikap percaya diri karena anggapan tentang baik buruknya tulisan berada di tangan pembaca, bukan pada diri penulis.
2. Menyiapkan diri untuk selalu terbuka terhadap kritikan. Banyaknya kritikan yang diperoleh akan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas tulisan.
3. Mengembangkan berbagai tulisan di berbagai media atau blog. Tulisan akan memperoleh warna setelah banyak dibaca dan dikunjungi orang karena tersedia dalam berbagai saluran baca.
4. Istikomah dalam menulis apa pun dan bagaimana pun keadannya. Semakin sering menulis, semakin terampil diri seseorang dalam mengolah kosakata hingga memiliki ciri khas sebuah tulisan.
Semua orang adalah pemenang. Saat rintangan datang, halau dan terus lawan. Pasti kesuksesan akan datang menjelang. Jangan ragu dengan apa yang kita tulis. Kita tak pernah tahu bahwa tulisan kita saat ini akan terasa istimewa di mata dan hati para pembaca kelak.
Beli manggis di pasar Pleret
Mari menulis agar tak kudet
Salam literasi.
Waw keren , penuh dengan penjabaran .
BalasHapusMasih terus berproses agar seperti Bu Ovi
HapusYang jelas ini sudah mahir memparafrase, pasti lolos dari plagiarism checker. Mantab jiwa!!
BalasHapusAamiin. Hanya singkat dan sederhana saja Pak Amali. Kudu banyak berposes dari njenengan.
HapusMantap kita adalah pemenang, yes banget
BalasHapusKita semua pemenang di setiap kesempatan. Ganbatte.
Hapus
BalasHapusTop bgt resumenya bu Rina
Kapan ya diajari Bu Maryati agar tulisanku bs berversi drama? Hehehe..terima kasih, Bu. Belajar terus pokoknya.
HapusMantul he he
BalasHapusAlhamdulillah.
HapusLuarbisa, resume yang sudah punya karakter.
BalasHapusTerima kasih, Ibu atas apresiasinya. Mohon bimbingannya.
HapusLUAR BIASA RESUMENYA, BAGUS RAPIH DAN LENGKAP.
BalasHapusTerima kasih, Bapak.
Hapus