Selama ini menulis dipandang oleh sebagian orang merupakan passion yang menjanjikan. Pernyataan ini sangat beralasan, yakni pertama kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir. Menulis membutuhkan daya pemikiran yang tinggi, sehingga baik dan buruknya kualitas tulisan seseorang berhubungan erat dengan daya intelektualitas atau kematangan berpikir. Alasan kedua, profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai di dalam masyarakat
Aktivitas menulis seseorang tak semulus yang dibayangkan, seringkali hambatan datang. Hambatan tersebut menjadi kendala bagi seseorang untuk menulis. Kendala dan hambatan inilah yang dijadikan alasan bagi seseorang untuk tidak mau menulis. Adapun kendala dan hambatan yang sering dialami seseorang dalam menulis adalah tidak bakat menulis, tidak memiliki waktu, tidak memiliki ide, tidak mau dikritik, dan tidak suka menulis. Sebenarnya pernyataan-pernyataan tersebut adalah alasan klise. Tergantung pada niat dan keberanian. Jika sudah memiliki tekad dan niat yang kuat, apapun kendalanya akan mampu dilawan dan diatasi dengan baik.
Ketakutan dan kekhawatiran untuk memulai menulis dapat ditepiskan. Kembalilah pada manfaat menulis. Menulis berhubungan dengan nilai, visi, dan misi hidup kita di dunia. Ketika kita menulis berarti kita telah memberi manfaat pada diri sendiri dan orang lain. Orang lain akan dapat memanfaatkan tulisan kita untuk berbuat seperti yang kita tuliskan. Kita sudah memberikan ilmu yang dapat dimanfaatkan orang lain sebagai pembaca. Bukankah keberadaan kita di dunia ini untuk memberikan banyak kemanfaatan? Hal ini sangat selaras dengan hadis nabi yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk manusia lain. Jadi, menulislah dan lihatlah akan banyak orang yang memanfaatkan apa yang dituliskan.
Menulis bagi seorang pemula dapat dilakukan melalui latihan secara terus-menerus. Latihan yang dilakukan secara terus-menerus akan memudahkan kita mengembangkan berbagai kosakata dan mengembangkannya dalam paragraf-paragraf yang baik dan runtut. Sebaiknya lakukan menulis secepatnya dan diniatkan membuat karya yang asli dari kita.
Setelah menulis menjadi sebuah kebiasaan maka perlu diketahui langkah-langkah agar menjadi penulis yang baik. Langkah-langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, membaca banyak buku baik yang bersifat umum maupun khusus (sesuai dengan latar belakang bidang akademik yang kita geluti atau yang menjadi ketertarikan bagi diri sendiri). Buku yang dibaca dapat ditemukan di mana saja. Di perpustakaan sekolah misalnya, atau browsing melalui internet. Di sana akan banyak ditemukan bacaan bermutu dengan berbagai tema atau topik yang kita kehendaki. Langkah kedua, melakukan diskusi yang intensif dengan rekan kerja tentang topik tertentu yang baik. Seringkali ide atau gagasan muncul saat kita melakukan diskusi dengan orang lain. Diskusi dapat juga dilakukan melalui saran webinar atau workshop-workshop. Seseorang dapat menyimak materi yang disampaikan dan dilanjutkan dengan tanya jawab untuk mendiskusikan ide yang dibahas. Ketiga, menulis dapat dilakukan dengan cara melihat dan merasakan secara langsung apa yang dilihat dan dirasakan. Objek yang diamati dan dirasakan akan menjadi ide untuk dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Langkah terakhir, banyak lakukan sosialisasi dengan orang lain. Bersosialisasi dengan orang lain menjadi perantara untuk menulis. Pengalaman, pengetahuan, dan kisah orang lain yang baik-baik dapat kita serap dan kita jadikan ide dalam menulis.
Kelima langkah untuk menjadi penulis tersebut jika sudah dilakukan dapat dilanjutkan pada tahap membuat persiapan-persiapan menulis (writing preparation). Adapun persiapan-persiapan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Menggali dan menemukan gagasan atau ide
Penggalian ide dapat dilakukan melalui pengamatan sebuah peristiwa yang terjadi, mendeskripsikan imajinasi, dan kajian pustaka. Cara mudah untuk menemukan ide adalah melalui brainstorming atau curah gagasan. Brainstorming dapat dilakukan dengan mengingat kenangan yang akan mengguncang pikiran dan perasaan dalam bentuk mind mapping, membuka kembali album foto atau kenangan, membuka buku-buku lama, dan mengajak sahabat kecil untuk menceritakan masa kecil seseorang. Hal ini dapat merefresh otak agar fokus mendapatkan ide menulis. Cara-cara tersebut adalah cara yang sangat sederhana dan bisa dicoba.
2. Menentukan tujuan, genre, dan segmen pembaca
Persiapan yang kedua adalah menentukan tujuan penulisan. Seseorang dapat menentukan tujuan menulis sebuah buku agar isi yang dituangkan tidak lepas dari tujuan awal. Misalnya, sebuah buku ditulis untuk memberikan deskripsi penggunaan media tertentu. Maka yang ditulis hendaknya seputar media media pembelajaran, bukan tentang tema yang lain.
Setelah tujuan ditentukan jangan lupa menentukan genre tulisan. Genre tulisan biasanya terbagi menjadi fiksi dan nonfiksi. Tulisan fiksi berasal dari sebuah imajinasi sementara nonfiksi adalah tulisan-tulisan yang berangkat dari sebuah pengamatan data atau fakta. Tulisan fiksi bisa berupa cerpen, novel, puisi, drama, dan lain sebagainya. Adapun tulisan nonfiksi bisa berupa tulisan yang berkaitan dengan ilmu agama, pendidikan, filsafat, dan sebagainya.
Bagian lain yang perlu diperhatikan saat menulis adalah menentukan segmen pembaca. Isi buku yang dituliskan hendakanya menyesuaikan dengan segmen atau sasaran pembaca. Jika sebuah buku ditulis dengan segmen anak kecil maka kosakata yang digunakan adalah kosakata yang mudah dipahami dan banyak menggunakan kata populer, sebaliknya jika segmen pembacanya orang dewasa dan kalangan akademisi maka gunakanlah kata-kata ilmiah atau kajian yang sesuai dengan rentang usianya.
3. Menentukan topik
Penentuan topik dilakukan jika penulis sudah menetapkan tujuan menulis, genre yang dipilih, dan sasaran pembaca tulisan. Topik tidak bisa lepas dari tiga hal di atas.
4. Membuat outline
Outline adalah kerangka tulisan. Kerangka tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup dengan garis besarnya saja. Karakteristik outline yang baik adalah memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan. Kadang ada sebuah buku yang tidak setara antara judul, daftar isi, dan isinya. Hal ini bisa disebabkan karena tidak adanya kerangka tulisan sebelum dikembangkan menjadi tulisan yang utuh. Akibatnya, pembaca akan bingung membaca buku tersebut. Kesinambungan dan keterkaitan tulisan sangat menentukan tertarik atau tidaknya seseorang untuk membaca. Oleh karena itu, kehadiran outline sebelum memulai menulis sangat diperlukan agar tulisan yang dihasilkan tidak lari ke mana-mana.
5. Mengumpulkan bahan materi/buku
Penulis wajib mengumpulkan bahan bacaan, materi, atau buku untuk referensi dalam menulis. Bacaan yang berjumlah banyak akan membantu penulis dalam mengembangkan ide atau gagasan. Bahan bacaan yang dikumpulkan hendaknya disesuaikan dengan topik yang akan dibahas.
Langkah-langkah tersebut jika sudah dilampaui oleh seorang penulis dapat dilanjutkan dengan memulai menulis bacaan kasar. Setelah bacaan kasar terbentuk perlu dilakukan tahap editing, revising, dan publishing. Editing adalah membaca ulang naskah dan menyempurnakan draf. Pada tahapan ini perlu dilakukan pencermatan kelogisan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca, serta keruntutan. Sementara revising adalah mengubah beberapa naskah yang belum baik, melengkapi kekurangan, dan mengevaluasi kembali naskah untuk menihilkan atau meminimalisasi kesalahan. Tahap publishing adalah mengirimkan naskah, melakukan pracetak (perwajahan buku, tata letak, ISBN, dan proof reading) dilanjutkan dengan promosi dan distribusi.
Demikianlah resume materi pertemuan kedua hari ini. Materi yang disampaikan sangat menarik dan bersifat praktis. Seorang penulis pemula akan sangat terbantu dengan materi ini karena membahas tentang perencanaan menulis sampai dengan tulisan dipublikasikan.
Lengkap banget bunda
BalasHapusKeren . Salam kenal Ovi. Blog arofiah Afifi
Terima kasih. Salam balik dari saya, Rina. Siap berkunjung ke blog Arofiah Afifi.
Hapushttps://arofiahafifi.blogspot.com/2022/01/menulis-sebagai-passion.html
BalasHapusSaya Pemula mohon bimbingan
Saling belajar, ya. Saya baca dulu..pastinya lebih cetar tulisannya.
HapusHebat tulisannya, mantap jiwa
BalasHapusMasih belajar, Bunda. Terima kasih atas apresiasi dan motivasinya. Mohon bimbingannya selalu.
Hapusluar biasa selamat bu Rina
BalasHapusTerima kasih atas kobaran semangatnya. Saya harus belajar banyak dari Bunda.
Hapus
BalasHapusKeren tulisannya Bu, sudah seperti bahasa buku ...tapi maaf klo gak salah di no 2 alenia ke 2 ada kalimat yg terulang ya Bu ....tulisan fiksi berupa cerpen, novel puisi drama dll.
Tulisan fiksi berupa ilmu agama, pendidikan, filsafat dll.
Mungkin maksudnya Non fiksi ya Bu ..maaf kalo sy salah ...
Ya, Bu. Benar sekali. Terima kasih atas pencermatannya. Siap edit.
HapusSangat bagus bu semangat terus
BalasHapusInsyaAllah, Pak. Mari saling menginspirasi dan memotivasi. Buku solo tinggal diwujudkan. Hehehe
Hapus
BalasHapusHebat Bu Rina ,salut bgt saya .resumenya lengkap n mudah di pahami
Masih perlu berguru pada Bu Maryati, terutama membuat tulisan fiksi. Jos pokoknya.
HapusSaya hatus banyak belajar dari bunda Rina nih๐๐
BalasHapusSaya juga masih belajar banyak dari Ibu. Mari saling bersinergi, memotivasi dalam kebaikan.
HapusKeren bu Rina, memang bu guru Basindo yang jempolan. Salam ta'zhim buat bu Kamad (Bunda Mafrudah, M.Pd.I.)
BalasHapusInsyaAllah salam siap disampaikan. Matur nuwun Pak
HapusSami-sami bu Rina
Hapus
BalasHapusKeren tata bahasanya. Bagikan rasa senang mu, maka Dunia akan memberikan kesenangan berikutnya.
Salam Literasi ๐
Terima kasih, Pak. Masih harus terus belajar.
HapusKeren.Bun, bener juga ya mind mapping pasti membantu banget saat kita buat outline ya. Bahasanya komunikatif.
BalasHapusIya, mind mapping istilah lainnya adalah peta pikiran yang fungsinya membantu membuat peta ide yang akan dijabarkan menjadi tulisan lengkap. Terima kasih sudah berkenan untuk berkunjung. Salam kenal.
HapusSalam kenal kembali, Bu Rina...saya pengagum Ibu...bahasa Ibu terasa dilembut banget...berasa kita dah pernah kopdar ya...heheh
HapusSuatu ketika, semoga bisa kopdar sungguhan.aamiin
Hapus"Menulis harus dengan penuh Kesabaran ". Sebagai penulis pemula tekunlah dalam proses menulis . Daripada berfokus pada kesempurnaan ataupun idealisme, hendaknya kita mencoba untuk terus menulis semampunya disertai dengan konsistensi Maka kita akan memetik hasilnya
BalasHapuscakep dan mantap.
Alhamdulilllah, terima kasih atas apresiasi dan motivasinya, Pak.
Hapus