RESUME PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI
Pertemuan : 11
Hari/Tanggal : Rabu/9 Februari 2021
Waktu : 19.00 s.d. selesai
Narasumber : Sudomo, S.Pt.
Moderator : Helwiyah
Menulis Fiksi itu Asyik
Dalam dunia tulis menulis kita kenal jenis tulisan fiksi dan nonfiksi. Karena kekhasan yang membedakan kedua jenis tulisan itu, dalam penempatan koleksi di perpustakaan pun dibedakan. Koleksi fiksi identik dengan koleksi cerita, baik cerpen, puisi, novel, drama, maupun pantun.
Menulis cerita fiksi menuntut adanya kepekaan daya imajinasi. Cerita fiksi lebih didominasi oleh adanya rekaan yang menempatkan tokoh-tokohnya dengan segala karakter khasnya, sehingga tulisan menjadi lebih hidup, meskipun itu hanya sebatas rekaan semata.
Tulisan fiksi yang kita kenal selama ini ada berbagai bentuk. Tulisan itu dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik, yakni unsur yang ada dalam cerita itu sendiri dan unsur yang ada di luar cerita. Unsur cerita yang dibentuk dari dalam disebut unsur intrinsik, sedangkan unsur cerita yang dibentuk dari luar disebut unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut penting keberadaannya. Penulis cerita fiksi tak akan lepas dari hal ini.
Berangkat dari pemahaman akan adanya unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra maka seseorang sudah memiliki modal untuk menulis sebuah karya fiksi. Salah satu tokoh literasi lulusan sarjana peternakan dapat kita serap ilmunya terkait tips-tisp menulis karya fiksi. Sudomo, S.Pt, yang memiliki nama panggilan Pak Momo atau Mazmo serta nama pena Momo DM sebagai narasumber pelatihan menulis tanggal 9 Februari membeberkan beberapa tips yang dilakukan untuk menulis karya fiksi. Paparan materi yang disampaikan menjadi menarik karena diantarkan oleh moderator yang juga sama-sama memiliki pengalaman dalam dunia tulis menulis yakni Helwiyah.
Kepiawaian Sudomo dalam menulis fiksi tidak diragukan lagi terbukti sudah banyak karya sastra yang dihasilkan dalam bentuk antologi dan buku solo. Dalam ajang kompetisi di bidang menulis juga sudah banyak prestasi yang diraihnya. Oleh karena itu, sangat tepat jika paparan yang disampaikan pada pelatihan menulis bersama PGRI dijadikan rujukan agar seseorangpun bisa menjadi piawai seperti Sudomo.
Mengangkat Fenomena Sekitar sebagai Bahan Cerita
Fenomena yang ada di sekitar kita akan menjadi bahan yang menarik untuk ditulis dalam bentuk cerita atau tulisan fiksi lainnya. Seseorang tinggal memilih hal apa yang menjadi sasaran untuk dibidik, diolah, dan dikemas menjadi sebuah tulisan fiksi yang menarik dan banyak diminati oleh orang. Fenomena adalah objek untuk melakukan riset sebagai upaya mencari ide tulisan. Meskipun fiksi, ide yang diangkat dan diimajinasikan dalam tulisan akan lebih terpercaya jika didukung dengan adanya riset dalam proses menulis.
Sebagian orang memang merasa sulit untuk menuliskan sebuah karya fiksi, tetapi melalui dasar pengamatan fenomena akan membantu memudahkan saat mengemas menjadi karya fiksi. Cerita akan lebih hidup dan mudah untuk dikembangkan jika idenya diambil dari fenomena-fenomena yang dekat dengan keseharian manusia.
Karya fiksi tidak hanya sekadar berfungsi sebagai penghibur semata di waktu luang. Akan tetapi, di dua tahun terakhir ini fiksi menjadi salah satu bahan asesmen kompetensi minimun. Jika diperhatikan, stimulus soal asesmen berbentuk sastra (cerpen) sebagian besar ide cerita yang ditulis berangkat dari fenomena yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Pentingnya Belajar Menulis Fiksi
Sudomo menyatakan bahwa agar dapat menulis fiksi dengan baik memerlukan proses belajar. Beberapa hal yang melatarbelakangi perlunya belajar menulis fiksi adalah sebagai berikut.
- Fiksi adalah salah satu aspek yang dinilai dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dalam literasi membaca. Ada dua konteks yang harus dikuasai siswa untuk mencapai kemampuan minimum yakni teks informasi dan sastra. Sebagai bahan latihan untuk siswa, guru dapat menulis soal sastra menggunakan stimulus yang telah dibuatnya.
- Menulis fiksi adalah media untuk mengekspresikan perasaan penulis. Bahkan, luka akan dapat disembunyikan dan disembuhkan melalui tulisan. Tokoh-tokoh yang diangkat dalam tulisan bisa mewakili perasaan penulis.
- Karya fiksi menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang mengasyikkan dan menyenangkan bagi siswa. Kehadiran karya sastra bisa membantu menumbuhkan karakter dan kepekaan sosial siswa dalam menangkap kejadian-kejadian di sekitarnya. Fiksi juga bisa dijadikan bahan pengayaan.
- Kumpulan tulisan berupa karya fiksi dapat dibukukan hingga memperoleh kredit poin yang berguna saat akan mengajukan kenaikan pangkat guru.
Meskipun terkesan lebih santai, tetapi tidak semua orang berhasil menulis fiksi dengan baik. Akan tetapi, jangan khawatir karena ada beberapa syarat yang bisa dijadikan acuan agar bisa menulis karya fiksi. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut.
Adanya kemauan diri yang kuat atau komitmen untuk bisa menulis fiksi. Tulisan fiksi yang dihasilkan dapat diposting di berbagai media, di antaranya adalah blog. Daya tarik yang lebih kuat bagi seseorang untuk menulis fiksi adalah dengan aktif mengikuti kompetisi. Setiap ada kompetisi atau perlombaan saatnya orang mengetahui seberapa besar kemampuan yang dimiliki terkait penulisan karya fiksi.
Melakukan pendahuluan menulis melalui riset juga menjadi syarat agar bisa menulis fiksi. Riset tidak hanya ada dalam penelitian saja. Kehadiran riset pada karya fiksi bermanfaat agar karya menjadi lebih nyata. Misalnya saja pemilihan latar tempat. Riset tidak harus dilakukan dengan mengunjungi langsung objek yang akan dibahas, tetapi dapat digali melalui kajian literatur terkait dan wawancara kepada tokoh tertentu yang dianggap mengetahui hal-hal yang akan dituliskan.
Tekun membaca cerita fiksi karya penulis lain juga menjadi syarat yang penting. Membaca adalah sarana termudah bagi seseorang untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca. Kekayaan kosakata akan terus bertambah jika seseorang tekun membaca. Tidak akan muncul kekhawatiran mengalami kemacetan ide dalam menulis ketika banyak bahan yang sudah dibaca. Penguasaan kosakata melalui membaca juga akan membantu seseorang menemukan gaya atau karakter tulisan.
Tidak malas mempelajari KBBI dan PUEBI. Kedua kitab suci Bahasa Indonesia itu menjadi senjata ampuh untuk bisa menulis sesuai kaidah yang disyaratkan. Kaidah-kaidah kebahasaan yang menyangkut penggunaan tanda baca dan ejaan akan kita dapatkan dari PUEBI dan KBBI ini.
Terakhir, dasar-dasar menulis cerita fiksi harus dikuasai. Unsur-unsur pembangun karya fiksi baik intrinsik maupun ekstrinsik perlu dipelajari untuk mengembangkan tulisan.
Unsur-unsur Pembangun Cerita Fiksi
1. Tema
Tema adalah ide pokok cerita. Tema bisa ditemukan dengan mudah dari pengamatan hal-hal yang ada di sekitar kita. Misalnya saja keluarga dan sekolah. Keduanya bisa kita amati dan pelajari untuk ditarik ide yang menonjol. Selain kedekatan dengan hal-hal yang ada di sekitar tema dapat ditarik dari hal-hal yang paling disukai dan dikuasai. Ide yang mudah dan disukai akan membantu seseorang dalam menyelesaikan cerita.
2. Premis
Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Premis tersebut terbagi menjadi karakter, tujuan tokoh, halangan atau rintangan, dan resolusi.
3. Alur atau plot
Alur atau plot adalah jalannya cerita. Alur terdiri atas pengenalan cerita, pemunculan konflik awal hingga menuju klimaks, dan penyelesaian cerita atau ending.
4. Penokohan
Tokoh dan penokohan mencerminkan pelaku dan wataknya dalam cerita. Penokohan dapat digambarkan secara langsung yang meliputi gambaran fisik atau perilaku tokoh, lingkungan, tata bahasa tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain.
5. Latar atau seting
Latar atau seting merupakan penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar atau seting ini bisa didapatkan melalui riset yang dilakukan sebelum seseorang menulis cerita. Meski fiksi tetapi ada unsur memberikan informasi sesuai dengan kenyataan.
6. Sudut pandang atau point of view
Sudut pandang adalah cara pengarang atau penulis menempatkan dirinya dalam karya sastra. Sudut pandang yang digunakan biasanya orang pertama, kedua, atau ketiga. Sudut pandang dalam tulisan hendaknya digunakan secara konsisten.
Langkah-langkah Menulis Cerita Fiksi
- Pertama, niat untuk memulai dan menyelesaikan cerita fiksi. Permasalahan yang dihadapi oleh penulis adalah mengalami kebuntuan ide menyelesaikan tulisan fiksi.
- Kedua, perbanyak membaca cerita fiksi karya orang lain untuk menambah referensi berupa ide/gagasan/tema, teknik menulis, pemilihan kata, dan gaya penulisan.
- Ketiga, terkait ide dan genre. Catat segera ide cerita yang terlintas di kepala agar ide tidak hilang begitu saja. Pilih genre yang disukai dan kuasai.
- Keempat, membuat outline/kerangka karangan. Kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi. Penentuan tema penting agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita. Selanjutnya membuat premis sesuai tema, penentukan alur atau plot, menentukan penokohan yang kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh, menentukan latar atau seting, dan memilih sudut pandang cerita yang unik.
- Memulai menulis dengan membuka cerita, melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik dan jelas, menonjolkan sisi konflik internat dan eksternal, menguatkan pertimbangan logis agar logikanya runtut untuk menguatkan daya imajinasi pembaca, menentukan susunan kalimat yang mudah dipahami dan jelas, memilih diksi yang pas dalam karya sastra, menentukan ending yang baik.
- Lakukan swasunting tulisan. Kegiatan ini dilakukan setelah selesai menulis. Saat menulis jangan sambil mengedit tulisan agar tulisan selesai. Setelahnya baru dikoreksi penggunaan ejaan, kata baku, istilah, dan logika cerita. Tempatkan diri sebagai posisi penyunting yang sebenarnya agar menghasilkan tulisan yang benar-benar berkualitas. Minimalkan permakluman atas kesalahan diri sendiri. Selain itu, jangan lupakan kitab menulis yang terdiri atas KBBI dan PUEBI.
Langkah-langkah menulis fiksi sudah sangat jelas dipaparkan oleh narasumber. Saatnya untuk bergerak dan segera menulis. Semangat!
Gelas bening di atas meja
Dituang air jernih warnanya
Jangan sungkan menulis cerita
Lakukan riset secukupnya
Mantap Bunda Rina ,tulisannya lengkap dan pantunnya juga keren,Top bgt dah
BalasHapusTerima kasih, suhu. Masternya sastra, top deh Bu Mar!
HapusHrbat
BalasHapusTerima kasih, Pak.
HapusTulisan bunda rapi dan menarik untuk dibaca, salam literasi
BalasHapusMasih harus terus belajar meningkatkan kualitas, Bund. Salam literasi.
HapusIni namanua menulis dengan sudut pandang yg lain
BalasHapusJadi berbeda dari kebanyakan
Menuliskan apa yang saya mampu, Bund. Terima kasih.
HapusKeren bunda
BalasHapusTerima kasih bu Rina Harwati sudah mengingatkan kalau hari ini pertemuan ke-11. Insomnia saya kumat.
BalasHapusResumenya lengkap Bu. Bisa jadi referensi
Sama2, Pak. Terima kasih atas apresiasinya. Terus belajar ini, Pak.
HapusParafrase nya keren banget, materinya tetap sarat informasi dan.lengkap...rapi pun tampilannya...keren Bu Rina.
BalasHapusTerima kasih, Bu Susi. Masih jauh dari sempurna.
Hapusterima kaish sdh mengerjakan tugas resumenya dengan baik
BalasHapusTerima kasih, Om Jay. Mohon bimbingannya selalu.
HapusBu Rina selalu oke
BalasHapusBerkat suntikan semangat dari Bu Isti. Salam ukhuwah.
HapusTulisannya menarik dan bagus sekali bu.. 👍👍👍
BalasHapusMasih banyak kekurangannya itu Pak. Terus belajar dan belajar terus. Terima kasih.
HapusSangat T.O.P. BeGeTe. No doubt!
BalasHapusMasih kalah sama Pak Amali
HapusInformatif pantunnya jadi melekat di hatiku supeer
BalasHapusTerima kasih.
HapusInformatif👍👍
BalasHapusTerima kasih
Hapus