RESUME PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI
Pertemuan : 17
Hari/Tanggal : Rabu/23 Februari 2022
Waktu : 19.00 s.d. selesai
Narasumber : Mukminin, S.Pd., M.Pd.
Moderator : Helwiyah
MENGENAL PENERBIT INDIE
Jika sudah berbicara masalah penerbit rasanya sudah mulai ada angin segar dalam diri ini. Tak terasa kali ketujuh belas pelatihan ini berlangsung. Mengumpulkan tulisan sedikit demi sedikit dan berharap hasil kumpulannya dapat diterbitkan menjadi buku solo. Ah, betapa bahagianya.
Bagi saya dunia penerbitan masih awam. Baru pertama ini saya bisa mengenal tentang penerbit indie, bagaimana prosedur menerbitkan buku, apa saja yang perlu dipersiapkan, bahkan, sampai berapa budget yang harus disediakan untuk mewujudkan buku solo impian.
Malam ini para peserta gelombang 24 pelatihan belajar menulis PGRI menghadirkan narasumber hebat, Mukminin dengan moderator Helwiyah. Berkat bergabung di komunitas menulis angkatan VIII, Mukminin berhasil menerbitkan buku solo yang sudah laris terjual. Narasumber mendirikan penerbit indie sehingga beberapa hal terkait penerbitan dikupas tuntas dalam pelatihan Rabu malam ini. Bukunya yang terkenal berjudul Menjadi Penulis Andal Bersama Pakar yang kini sudah terjual hampir 500 buku.
Perlunya Menulis hingga Menerbitkan Buku
Seseorang memerlukan keterampilan menulis dalam hidupnya. Sekalipun sulit, tetapi ternyata keterampilan menulis ini sudah dilakukan sejak seseorang baru pengenyam pendidikan PAUD. Mulai dari mengenalkan huruf, kata, frasa, klausa, hingga kalimat. Oleh karena itu, wajar saja hingga sampai menjadi guru (karena komunitas menulis ini anggotanya guru) pasti bisa menulis. Bayangkan saja jika guru tak bisa menulis. Apa yang akan disampaikannya di depan kelas saat menyampaikan materi kepada anak didiknya. Kebiasaan menulis oleh guru ini jika dapat dikelola dengan baik akan dapat dibukukan hingga berpuluh-puluh hingga beratus-ratus halaman. Apalagi bagi guru yang masa kerjanya sudah lebih dari lima belas tahun seperti saya ini, ya? hehehe.
Memang yang ada di benak para guru selama ini adalah tulisan yang berbobot, menarik untuk dibaca, bernilai jual tinggi seperti yang berjajar di toko buku. Akibatnya, guru akan stagnan dan tak bisa berkarya apa-apa karena yang dibayangkan dari aktivitas menulis adalah sebuah beban yang berat dan cukup menguras pikiran dan energi. Kiranya pendapat itu salah. Buktinya, selama pandemi ini sudah banyak guru yang berhasil menerbitkan buku solo dalam berbagai jenis. Sudah banyak pula guru yang sukses naik pangkat karena menulis buku. Hal itulah yang semestinya dijadikan pegangan bagi seorang guru untuk semangat berkarya meskipun dari tahap tulisan yang sederhana.
Sebagai upaya awal untuk memberanikan diri menerbitkan buku solo bisa dilakukan dengan bergabung pada komunitas menulis, seperti komunitas asuhan Om Jay ini. Di komunitas inilah para peserta akan saling mempengaruhi dalam kebaikan dan memotivasi untuk berkarya. Media blog yang setiap pertemuan diisi dengan resume sudah berhasil mewujudkan para guru meraih impiannya untuk menerbitkan buku solo.
Dalam dunia penerbitan seorang penulis akan berkenalan dengan dua jenis tipe penerbit, yakni mayor dan indie. Keduanya memiliki perbedaaan dalam berbagai hal seperti berikut ini.
Tabel Perbedaan Penerbit Mayor dan Indie
|
No
|
Keterangan
|
Mayor
|
Indie
|
|
1.
|
Jumlah Cetakan
|
Cetakan pertama sekitar 3000 eksemplar atau minimal 1000 eksemplar
untuk dijual di toko-toko buku.
|
Sesuai pemesanan atau cetak berkala POD ( Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media
online.
|
|
2.
|
Naskah yang Diterbitkan
|
Dilakukan dengan seleksi ketat mengikuti selera pasar, dan tingginya
tingkat penolakan.
|
Naskah yang layak diterbitkan; tidak melanggar undang-undang hak
cipta karya sendiri, tidak plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan
pornografi.
|
|
3.
|
Profesionalitas
|
Tinggi karena banyaknya dukungan SDM di perusahaan besar mereka.
|
Adanya anggapan menerbitkan buku di penerbit indie asal-asalan, asal
cetak-jadi-jual. Penulis harus hati-hati memilih penerbit indie dengan
melihat mutu dan sistem manajemen pemasaran.
|
|
4.
|
Waktu Terbit
|
Pengumuman naskah diterima atau tidaknya kisaran 1-3 bulan. Ada juga
yang bertahun-tahun belum terbit. Jika dalam waktu yang ditentukan penjualan
buku tidak sesuai target, maka buku akan dilepas oleh distributor dan ditarik
kembali oleh penerbit.
|
Segera memproses naskah diterima dengan cepat. Dalam hitungan minggu
buku sudah bisa terbit,
|
|
5.
|
Royalti
|
Royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan. Dikirim kepada
penulis setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan penjualan
buku.
|
15-20% dari harga buku.
Dipasarkan dan dijual penulis secara online.
|
|
6.
|
Biaya penerbitan
|
Biaya penerbitan gratis
|
Berbayar sesuai dg aturan masing-masing penerbit.
|
Dilihat dari beberapa sisi perbedaannya, bagi penulis pemula lebih cocok jika menggunakan sistem penerbitkan indie. Sebagai referensi berikut adalah deskripsi penerbit Indie Kamila Press Lamongan yang memiliki alamat sebagai berikut.
Penerbitan KAMILA PRESS LAMONGAN melayani cetak buku, dengan jasa ISBN, editing, lay out, dan design cover buku dengan harga terjangkau. Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.
1. Kirimkan naskah lengkap mulai judul, kata pengantar, daftar isi, naskah, daftar pustaka, biodata penulis dengan fotonya dan sinopsis buku.
2. Ketik A5 ukuran 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran font 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Tulisan menggunakan huruf Arial, Calibri atau Cambria. Semua naskah dimasukkan dalam satu file dan kirimkan melalui WA atau email gusmukminin@gmail.com.
Adapun rincian biayanya adalah sebagai berikut.
✓ Biaya Cetak buku A5, kertas "Bookpaper (cokelat halus)", termasuk biaya ISBN, layout, edit, cover buku:
A. 60 halaman:
# Cetak 5 buku/ eksp. = 566.000
# Cetak 10 buku/ eksp. = 632.000,
plus ongkir
B. 70 halaman :
# Cetak 5 buku = 570.000
# Cetak 10 buku = 650.000,
plus Ongkir
C. 85 halaman :
# Cetak 5 buku = 580.000
# Cetak 10 buku =
660.000
D. 90 halaman:
# Cetak 5 buku = 600.000
# Cetak 10 Buku = 715.000
E. 100 halaman:
# Cetak 5 buku = 635.000
# Cetak 10.Buku = 725.000
F. 125 halaman:
# Cetak 5 buku = 650.000
# Cetak 10 buku = 751.000
G. 150 halaman
# Cetak 5 buku = 665.000
# Cetak 10 buku = 800.000
H. 200 halaman
# 5 buku = 695.000
# 10 buku = 841.000
I. 250 halaman:
# Cetak 5 buku = 725.000
# Cetak 10 buku = 900.000
J. 300 halaman:
# Cetak 5 buku = 753.000
# Cetak 10 buku = 957.000
# Setelah cetak 10 buku dengan jumlah halaman dan harga tersebut, maka kelebihannya dihitung harga cetak ulang :
1. Cetak buku 60 halaman harga @ 20.000
2. Cetak buku 70-75 halaman harga @21.000
3. Cetak buku 100 halaman harga @ 23.500
4. Cetak buku 140 halaman harga @ 27.000
5. Cetak buku 150 halaman @ 30.000
6. Cetak buku 250 halaman harga @ 40.000
7. Cetak buku 300 halaman harga @ 45.000
Fasilitas yang didapatkan adalah dibuatkan cover buku, layout, edit, sertifikat penulis buku, PO buku, Mendapat buku ISBN sesuai pesanan, cetak 10 dapat 10 buku. Buku yang diserahkan ke Perpusnas berjumlah dua menjadi tanggung jawab Kamila Press.
Tahapan Menulis dan Menerbitkan Buku
Seseorang yang ingin menulis dan menerbitkan buku perlu memahami tahapan-tahapan yang dilakukan. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Prawriting
a. Tahap awal penulis mencari ide apa yang akan ditulis dengan peka terhadap sekitar ( pay attention).
b. Penulis harus kreatif menangkap fenomena yang terjadi di sekitar untuk menjadi tulisan.
c. Penulis banyak membaca buku.
2. Drafting
Penulis mulai membuat draf (outline buku/ daftar isi buku) dilanjutkan menulis naskah buku sesuai draf tadi.
Menulis harus sesuai dengan apa yang disukai (pasion). Bentuk tulisan bisa berupa artikel, cerpen, puisi, novel, dan sebagainya. Dalam menulis dilakukan dengan penuh kekreatifan merangkai kata, menggunakan majas, dan berekpresi untuk menarik pembaca.
3. Revisi
Revisi naskah dilakukan setelah naskah selesai ditulis. Merevisi tulisan meliputi proses memilih tulisan yang baik untuk dicantumkan, membuang yang tidak perlu, serta hal apa saja yang perlu ditambahkan.
4. Editing/ swasunting
Setelah naskah kita revisi maka masuk tahapan editing. Editing hanya memperbaiki berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pada kalimat. Tahap ini boleh dikatakan sebagai "swasunting" yaitu menyunting tulisan sendiri sebelum masuk penerbit. Penulis dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan PUEBI dalam melakukan tahapan ini.
5. Publikasi
Publikasi adalah tahapan terakhir. Tahap ini dilakukan jika naskah buku sudah selesai direvisi.
Tanam alpukat di samping rumah
Biar menguning jangan dikarbit
Kumpulan naskah melimpah ruah
Pasrahkan saja kepada penerbit
Mantap bunda..
BalasHapusTerima kasih, Bunda.
HapusMantap selalu tampil beda dan menginspirasi
BalasHapusTerinspirasi Mba Isti pastinya. Matur nuwun, Bu.
HapusProlog yang sangat mencerahkan bunda. Yakin saya bunda jadi penulis handal dengan pengalaman
BalasHapusAamiin. Bunda Ovi juga hebat. Selalu gercep.
HapusKereen, ini sih udah penulis profesional
BalasHapusBelum, Ibu. Masih banyak belajar.
HapusJelita (jelas, Informatif dan Tertata) banget, dengan desain baru di blog yang makin kereen. Joss mbakku, bu Rina
BalasHapusWah, malu saya. Blm sebanding dengan ke-ToP-an njenengan Mas guru.
HapusMantap Sekali bunda Rina, pantunnya Kece abis
BalasHapusAlhamdulillah. Semoga bermanfaat ya, Bu.
Hapus