PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI
Pertemuan : 22
Hari/Tanggal : Senin/7 Maret 2022
Waktu : 19.00 s.d. selesai
Narasumber : Suharto, M.Pd.
Moderator : Dail Ma'ruf
MENULIS DI KALA SAKIT
Sehat dan sakit ibarat dua mata uang yang saling berdampingan bagi manusia. Lama sekali orang dikarunia kesehatan, tetapi tak dapat dipungkiri sepanjang menikmati sehat, rasa sakit mendera. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah untuk hamba-Nya di muka bumi ini. Di kala sehat seseorang harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk kepentingan yang positif agar tak terbuang sia-sia. Di kala sakitpun tak jarang orang yang memanfaatkannya untuk melakukan tindakan-tindakan berguna. Misalnya saja menulis. Telah banyak contoh orang sakit justru bisa menerbitkan sebuah buku. Di masa pandemi ini, ketika seseorang terkonfirmasi posiif, tidak sedikit yang kemudian menuliskan pengalamannya hingga terbit menjadi sebuah buku. Justru dengan menulis orang yang sakit akan merasa terhibur dan bisa kuat melalui ujian yang diberikan oleh Allah kepadanya.
Kisah Heroik Seorang Guru MTs Negeri 5 Jakarta
Kisah heroik juga dapat dibaca dari seorang tokoh pendidikan yang pada Senin malam tanggal 7 Maret 2022 bertindak sebagai narasumber pelatihan belajar menulis PGRI. Beliau adalah Suharto. Seorang penyintas GBS. Suharto berasal dari Jakarta, mengajar di MTsN 5 Jakarta, tepatnya Jakarta Utara. Menulis sudah menjadi passionnya jauh sejak sebelum rasa sakit melanda. Satu buku yang ditulisnya sebelum sakit adalah mengejar azan (2018). Ide menulis dari Om Jay. Ketika sedang semangat-semangatnya menulis, tiba-tiba saja terkena sakit lumpuh total tak bisa bergerak, kecuali kepala, mata, memori, dan pendengaran yang masih normal.
Dinikmatinya sakit yang dianugerahkan Allah kepadanya. Tiga tahun delapan bulan perjuangannya untuk pulih terus dilakukan. Bahkan, sudah berapa juta biaya kesehatan dikeluarkan, tak dihitungnya. Dengan berbekal keyakinan bahwa tak akan ada hambanya yang diuji di luar kemampuan yang dimiliki umat, Suharto terus menikmati ujian dan mensyukuri kenikmatan-kenikmatan lain yang diberikan Tuhan kepadanya.
Karena minimnya aktivitas yang dilakukan, maka membaca dan menulis adalah kegiatan yang menurut Suharto bisa dilakukan di tengah keterbatasan tak bisa bergerak dalam kurun waktu tiga tahun lebih delapan bulan. Kemampuannya membaca dan menulis didukung oleh kecanggihan teknologi. Membaca dapat digantikan dengan menyimak youtube, sementara menulis dilakukannya dengan bertahap. Hal itu diawali saat ditemukannya gawai milik isteri yang berdering dan tertinggal di rumah. Asisten rumah tangga dimintanya untuk mengambilkan gawai yang berdering itu. Dengan sekuat tenaga Suharto mencoba merengkuh dan memegang HP itu, ternyata bisa. Setelah perilaku nekat yang dilakukan itu, akhirnya Suharto bisa memulai menulis di beranda facebook tentang apa saja yang dialaminya saat sakit. Dimulai dari saat terserang penyakit, dirawat di rumah sakit, bagaimana saya menjalani selama di rumah sakit, peristiwa-peristiwa yang terjadi selama sakit, dan saya tutup tulisan sampai kembali ke Madrasah.
Dituliskannya semua kronologis yang terjadi secara berurutan. Banyak apresiasi yang dilayangkan kepadanya dari teman di media sosial. Tulisan yang sudah dikumpulkannya dalam jumlah banyak dimintakan judul dari para pembaca melalui facebook. Akhirnya ketemulah judul yang menurutnya bagus dan sesuai dengan kondisi, yakni Kembali ke Madrasah.
Kemampuan menulis Suharto semakin terasah dengan aktif mengiikuti berbagai pelatihan menulis, seperti yang diadakan oleh Om Jay ini. Keikutsertaannya dalam menulis tergabung pada kelompok 8 dan akhirnya bisa menghasilkan buku solo dengan judul Belajar tak Bertepi. Tulisan yang dihasilkan semakin hidup. Tulisan-tulisan Cang Ato, sapaan akrab Suharto semakin hidup. Saat melakukan aktivitas menulis semua benda yang ditemukan di sekitarnya selalu divisualisasikan seperti sesuatu yang bernyawa. Semua yang dirasakannya saat sakit dituliskannya dan dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul GBS Menyerangku, Kisah Nyata Seorang Guru Bergulat dengan Penyakit Langka dengan menulis. Buku tersebut laris manis hingga kini. Selain itu, kumpulan tulisan yang disimpan di facebook dan blogspot diterbitkannya dengan judul Menuju Pribadi Unggu, buku kedua selama sakit.
Selama masa pandemi ini ia selalu menulis setiap hari. Waktu-waktu kosong dimanfaatkan untuk menulis. Bahkan, katanya sebelum mendapatkan ide menulis dia tidak akan bisa tidur. Daftar buku solo karya Cang Ato sebagai berikut.
1. Mengejar Azan (dua bulan sebelum sakit) 2018
2. GBS Menyerangku 2020
3. Menuju Pribadi Unggul2020
4. Kompilasi kisah inspiratif 2021
5. Belajar tak bertepi 2021
6. Aisyeh Menunggu cinta (Roman Betawi)2021
7. Menepis kesulitan menulis 2021
8. Gadis pemikat (cerpen) 2022
9. Kado khusus sang bintang (motivasi belajar)2022
10. Lentera Ramadan 2022
Adapun buku yang sedang proses penerbitkan adalah sebagai berikut.
- Catatan harian guru blogger madrasah
- Cing Ato Belajar pantun
- Cing Ato Belajar puisi
- Menulis dikala Sakit.
Mengapa Seseorang Perlu Menulis?
Cang Ato atau Suharto memaparkan bahwa ada banyak alasan yang menjadikan seseorang mau menulis. Alasan-alasan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Untuk menambah amal ibadah
Menulis adalah beramal. Demikian prinsip Cang Ato. Dengan sakit, seseorang bisa menuliskan karakter-karakter positif yang perlu digali. Kesabaran, kepasrahan, kekuatan, dan lain-lain bisa dituangkan menjadi tulisan dan bisa dibaca oleh banyak orang. Bahkan, pengalaman-pengalaman berharga yang dihadapi di kala sakit akan menjadi sesuatu yang bermakna bagi orang lain yang membutuhkan. Di sinilah bukti bahwa menulis akan menambah amal ibadah seseorang karena secara tidak langsung sudah membagikan ilmu berguna bagi orang lain.
- Memiliki Banyak Sahabat
Banyak sahabat hadir melalui tulisan. Tulisan memang menjadi daya pikat orang lain untuk mengenal lebih dekat. Tulisan mencerminkan karakter baik seseorang. Siapa yang tidak akan senang bersahabat dengan orang yang pandai menulis dan bercerita? tentulah tidak ada.
- Banyak yang konsultasi tentang menulis
Pengalaman seseorang dalam menulis akan menghadirkan orang lain untuk berkonsultasi. Setidaknya berbagi pengalaman dan bertukar pikiran sebagai pembuka dan penambah wawasan.
- Ditawari Menulis dari Pihak lain
Tawaran menulis datang dari adiknya di Pusdatin berawal dari melihat dan membaca tulisan-tulisan di media sosial.
- Kedatangan para youotuber
- Menjadi narasumber pada pelatihan di KSGN PGRI
- Mendapatkan penghargaan dari Bang Jafar DKI sebagai "Pahlawan pendidikan" Jakarta.
- Banyak teman kerja dan teman medsos yang membuat buku.
2. Untuk kenaikan pangkat
Menulis dapat diajukan oleh seseorang untuk naik pangkat. Adapun ragam tulisan yang dapat diajukan untuk naik pangkat dapat dibaca di buku 4 PKB guru.
3. Memotivasi dan menginspirasi
Menulis dapat memotivasi keluarga dan orang lain. Anak-anak akan bangga memiliki orang tua penulis. Karena aktivitas orang tua bisa diamatinya setiap hari maka tidak mengherankan jika hal-hal yang ditemukannya itu akan ditiru. Terlebih jika hal itu dilakukan dalam keadaan sakit. Pasti anak atau orang lain yang melihat akan membandingkan dirinya yang sehat dengan orang sakit yang tetap produktif menghasilkan karya.
4. Mengabadikan Ilmu.
Sebuah pengetahuan akan mudah hilang jika hanya diingat. Oleh karena itu, perlu ditulis dan didokumentasikan ke dalam sebuah tulisan agar abadi. Di saat dibutuhkan buku itu dapat dibuka dan dibaca kembali.
Di samping memaparkan mengapa seseorang perlu menulis, Suharto juga membagikan tips menulis bagi pemula, yakni:
1. Menuliskan hal-hal yang dikuasai
2. Menuliskan hal-hal yang pernah dialami dan dirasakan.
3. Menulis hal-hal yang ada di sekitar manusia.
4. Menggunakan bahasa sederhana asalkan pesan tersampaikan dengan baik.
Selamat mencoba trik dari Cang Ato
Makan sambal di malam hari
Tak taunya perut sembelit
Jangan ragu tarikan jemari
Hasilkan tulisan di kala sakit
Dengan menulis akan banyak sahabat ternyata benar dg belajar menulis kita akhirnya bisa kenal ya mb Rina.
BalasHapusAlhamdulillah, anugerah yang patut disyukuri.
Hapus