Selama ini kata naik kelas hanya kita dengar di kalangan pelajar. Naik kelas sangat diidam-idamkan kehadirannnya. Untuk menggapainya, perlu serangkaian ujian yang harus dilewati. Malam ini, aku dikenalkan pada kosakata naik kelas yang diangkat judulnya oleh Aam Nurhasanah seorang guru Bahasa Indonesia dan sekarang diangkat sebagai kepala sekolah di SMPS Mathla Ul Hidayah Cipanas (SMPS MAHDIA) di Cipanas Lebak menjadi judul pelatihan menulis PGRI pertemuan kelima. Dengan diantarkan oleh seorang moderator yang spesial, Dail Ma'ruf, secara lengkap judul yang akan didiskusikan dengan peserta pelatihan malam ini adalah Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi. Adapun profil narasumber dapat dibaca di sini.
Naik Kelas adalah Anugerah
Naik kelas yang dialami oleh Aam Nurhasanah adalah suatu anugerah setelah dirasakan sebuah ketertinggalan dan ketidakberhasilan dalam menyelesaikan pelatihan yang membantunya untuk menulis buku solo. Disebutkannya bahwa awal bergabung di gelombang delapan pelatihan menulis PGRI di bawah asuhan Om Jay, gagal membawanya membuat buku solo. Naik adalah sebuah proses perpindahan dari bawah menuju atas, sehingga tidak akan mungkin seseorang menjadi naik dari tempat rendah jika tidak melalui serangkaian proses yang mendukung untuk bisa ke atas. Dapat dibayangkan jika hanya diam di tempat dan tidak berkiprah apa-apa, akankah seseorang menjadi naik kelas?
Semangat dan motivasi yang kuat menjadi faktor penentu seseorang menjadi naik kelas.Terry menyatakan bahwa motivasi adalah basis untuk mencapai sukses pada berbagai segi kehidupan melalui peningkatan kemampuan dan kemauan. Hal ini memperjelas alasan pentingnya motivasi dimiliki oleh seseorang yang ingin maju, seperti Aam Nurhasanah, misalnya. Predikat juara saat mengikuti lomba bloh dan serangkaian keberhasilan menulis buku antologi dan solo menjadi bukti bahwa dalam diri Aam Nurhasanah tersimpan motivasi yang kuat. Ia selalu mengupgrade ilmu yang dimilikinya sehingga bisa naik kelas dengan meninggalkan jejak kenangan di buku-buku yang ditulisnya.
Prestasi Tercipta dari Menulis
Ada dua kata kerja yang menarik untuk dipahami lebih mendalam pada materi yang berjudul Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi, yakni 'naik kelas' dan 'berprestasi'. Naik kelas dan usaha yang ditempuh untuk mencapainya sudah dibahas di atas. Kata kerja kedua adalah berprestasi. Prestasi adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang memengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar (Sardiman). Hal ini berarti bahwa selain dorongan dari dalam diri, faktor di luar diripun sangat menentukan prestasi seseorang. Berkumpul pada komunitas menulis asuhan Om Jay seperti ini telah terbukti mengantarkan banyak orang menjadi berprestasi, termasuk Aam Nurhasanah, narasumber asal Lebak malam ini. Prestasi diraih oleh seseorang dari hasil keuletan kerja menurut bidang dan kemampuan masing-masing sebagai bukti usaha yang telah dilakukan.
Aam Nurhasanah sebagai narasumber hebat malam ini memiliki segudang prestasi yang membuat keder para pembacanya. Profesinya sebagai guru dengan tugas tambahan kepala sekolah dan bisa memiliki segudang prestasi membuat siapa saja berdecak kagum. Prestasi itu diraih karena kegigihanya dalam menulis. Menjadikan menulis sebagai suatu kebutuhan menuntaskan keinginan kuat memiliki buku solo. Seseorang boleh iri jika ada orang lain sudah memiliki buku solo. Dengan perasaan iri itulah akan membangkitkan semangat untuk melangkah maju mencapai sebuah prestasi. Apa pun bisa menjadi sumber tulisan, sehingga tidak akan ada alasan bagi seseorang untuk tidak bisa menulis.
Aktivitas menulis yang sudah menjadi sebuah kebiasaan akan menghasilkan produk dalam berbagai bentuk misalnya artikel populer, puisi, pantun, cerita pendek, dan lain sebagainya. Produk-produk tersebut tidak akan rugi dimiliki oleh seseorang. Jika tulisan-tulisan tersebut sudah berjumlah banyak dapat dijadikan buku. Even-even lomba seputar kepenulisan juga banyak dibuka. Nah, saatnya produk hasil menulis dapat diikutsertakan pada lomba tersebut hingga meraih prestasi.
Keterpautan erat antara menulis dengan naik kelas dan prestasi tidak bisa ditepiskan. Sudah banyak guru berprestasi hingga tingkat nasional karena memiliki tulisan. Sekarang, saatnya kita sebagai bagian dari guru menentukan pilihan. Tidak akan ada ruginya menulis karena sejatinya guru dan menulis ibarat buku dengan pena. Buku akan selamanya bersih jika tidak dihiasi dengan tulisan sehingga tak heran jika ada pepatah ikatlah pena dengan tulisan. Saatnya pena kita tarikan dan lihatlah kejutan-kejutan yang akan terbit darinya. Salam literasi!
Waw keren . Bunda.
BalasHapusSemoga berkenan mampir
Hapushttps://arofiahafifi.blogspot.com/2022/01/menulis-membuatku-naik-kelas-dan.html
Siaap. Sampun bu
HapusUkirlah penamu, terbitkan buku solo. Semangat!
BalasHapusSemangat selalu, Bu
HapusResume yang berbobot bundaaa
BalasHapusAlhamdulillah.matur nwn
HapusKeren abiiss bu.., modalitas menulisnya tak diragukan. Ulasannya berbobot dan selalu dibuat seperti artikel.. Joosh pokokmen.
BalasHapusBerkat ajaran njenengan pak
HapusKeren resume Bu Rina, kita tunggu kejutan berikutnya
BalasHapusSiaap. Matur nuwun.
HapusSudut pandangnya enak banget untuk terus diselami, lanjut Bun, buku solo menanti.
BalasHapusInsyaAllah. Terima kasih
Hapus